Pemerintah Iran menegaskan bahwa jalur diplomasi dan solusi perundingan merupakan satu-satunya cara untuk mengakhiri perselisihan serta konflik bersenjata yang diinisiasi oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pemerintah Iran guna merespons sikap Presiden AS Donald Trump yang menolak usulan Iran terkait pembukaan kembali akses pelayaran vital di Selat Hormuz dan penghentian permusuhan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa posisi Teheran tetap konsisten dalam menyikapi situasi keamanan di kawasan tersebut.
“Syarat-syarat kami jelas, dan setiap langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada dipenuhinya syarat-syarat tersebut,” ujar Abbas Araghchi melalui akun media sosialnya, dikutip melalui laporan Reuters.
“Hanya solusi melalui perundingan yang dapat membawa mereka keluar dari kebuntuan ini,” lanjut Araghchi.
Sebelumnya, Iran telah mengajukan usulan perdamaian di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York. Usulan tersebut disampaikan secara resmi kepada pihak AS melalui perantara mediator dari Qatar.
Namun pada Sabtu (26/9), Presiden AS Donald Trump secara terbuka menolak rencana perdamaian tersebut. Trump mengklaim bahwa kehendak Iran untuk mencapai kesepakatan di jalur perairan strategis itu lahir dari kondisi terdesak.
“Mereka ingin segera membuat kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz karena mereka sedang mengalami kekalahan telak,” kata Donald Trump saat memberikan keterangan di Gedung Putih.
Menanggapi klaim tersebut, Araghchi menyebutkan bahwa para mediator internasional belum menyampaikan penolakan resmi dari AS kepada pihak Iran.
“Kami sedang menunggu para mediator menyampaikan pandangan pasti kepada kami, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut,” tulis Araghchi.
Araghchi membeberkan bahwa poin usulan kesepakatan tersebut mencakup mekanisme hitung mundur selama tujuh hari menuju pembukaan kembali Selat Hormuz, yang diiringi dengan jeda pertempuran di kawasan.
“Jika ada keseriusan dari pihak AS untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, segalanya kini sudah siap,” kata Araghchi saat berbicara kepada wartawan di PBB.
Ia menambahkan, apabila AS memberikan persetujuan, pihak-pihak yang bertikai dapat melanjutkan dialog ke ranah yang lebih luas mengenai topik-topik yang disepakati bersama, termasuk mengenai program nuklir Iran.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa meskipun Iran siap membuka pintu dialog mengenai program nuklir dan isu strategis lainnya, negaranya tidak akan tunduk pada ancaman luar.
“Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan,” tegas Masoud Pezeshkian dalam wawancaranya dengan program CBS ‘Face the Nation’.
Pezeshkian juga menegaskan komitmen dasar Iran terkait pengembangan energi nuklirnya di tingkat internasional.
“Kita tidak boleh mengembangkan senjata nuklir,” tambah Pezeshkian.
Meski demikian, pejabat senior Iran lainnya menggarisbawahi bahwa pihak Teheran tidak akan memberikan kompromi terkait hak-hak kedaulatannya, seperti aktivitas pengayaan uranium maupun pengiriman cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri.
Konflik bersenjata ini telah berlangsung selama tujuh bulan sejak bereskalasi pada akhir Februari. Blokade di Selat Hormuz serta aksi saling balas serangan telah mengganggu arus distribusi minyak dunia secara signifikan dan memicu dampak ketidakstabilan ekonomi global.
Sumber: Trump Tolak Usulan Damai Iran, Teheran Tunggu Jawaban Resmi Mediator – Newest Indonesia











Komentar