Oleh: Hamzah Nangwa Zulkarnain (Ketua Umum KAMMI Mura-Linggau)
Lubuk Linggau, VNM— Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pengurus Daerah Mura-Linggau secara tegas menyatakan penolakan terhadap kedatangan Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, ke Kota Lubuk Linggau apabila kunjungan tersebut tidak disertai langkah konkret dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap yang dikeluhkan masyarakat.
KAMMI Mura-Linggau menilai penanganan karhutla dan dampak kabut asap di Sumatera Selatan membutuhkan keseriusan, kecepatan, serta tanggung jawab nyata dari pemerintah provinsi. Menurut KAMMI, masyarakat membutuhkan perlindungan dan kepastian penanganan atas dampak pencemaran udara yang mereka khawatirkan.
Ketua Umum KAMMI Mura-Linggau, Hamzah Nangwa Zulkarnain, menyampaikan bahwa kondisi kabut asap yang dikeluhkan masyarakat Kota Lubuk Linggau telah menimbulkan keresahan, terutama terkait kesehatan dan keselamatan warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Kami tidak bisa lagi bernapas dengan normal. Masyarakat harus menjalankan aktivitas di tengah kondisi udara yang dipenuhi kabut asap. Orang tua kami tetap harus bekerja, anak-anak harus bersekolah, sementara kesehatan dan keselamatan mereka menjadi taruhan,” tegas Hamzah.
Ia juga menyoroti potensi dampak kabut asap terhadap aktivitas pendidikan dan kehidupan masyarakat. Menurutnya, apabila kondisi kualitas udara menyebabkan kegiatan belajar mengajar terganggu atau harus dihentikan, hal tersebut semestinya menjadi perhatian serius pemerintah untuk segera mengambil langkah perlindungan terhadap masyarakat.
KAMMI Mura-Linggau menilai kunjungan Gubernur Sumatera Selatan ke Kota Lubuk Linggau dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Lubuk Linggau tidak seharusnya hanya menjadi agenda seremonial. Di tengah keluhan masyarakat mengenai kabut asap, organisasi mahasiswa tersebut berharap kehadiran gubernur menjadi momentum untuk memastikan penanganan karhutla dan dampaknya dilakukan secara terukur dan bertanggung jawab.
“Jika Gubernur datang hanya untuk pencitraan, maka lebih baik Gubernur tidak datang sama sekali. Masyarakat membutuhkan solusi konkret, bukan sekadar kunjungan seremonial. Yang dibutuhkan hari ini adalah tindakan nyata untuk melindungi kesehatan dan keselamatan warga,” ujar Hamzah.
Lebih lanjut, berdasarkan kajian internal dan sikap organisasi terhadap kondisi karhutla serta dampak kabut asap yang menjadi perhatian masyarakat, KAMMI Mura-Linggau menyampaikan dua tuntutan utama.
Pertama, KAMMI Mura-Linggau menyatakan menolak kedatangan Gubernur Sumatera Selatan dalam kegiatan HUT Kota Lubuk Linggau apabila kunjungan tersebut tidak disertai langkah konkret dalam penanganan karhutla dan dampak kabut asap yang dikeluhkan masyarakat.
Kedua, KAMMI Mura-Linggau mendesak Gubernur Sumatera Selatan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat Sumatera Selatan, khususnya warga Kota Lubuk Linggau, atas apa yang mereka nilai sebagai belum optimalnya penanganan karhutla di Sumatera Selatan. KAMMI juga meminta pemerintah provinsi menjelaskan langkah-langkah konkret yang telah dan akan dilakukan untuk menangani karhutla serta melindungi masyarakat dari dampak kabut asap.
KAMMI Mura-Linggau menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan tindakan nyata dan langkah penanganan yang terukur, bukan sekadar agenda seremonial. Organisasi tersebut berharap pemerintah provinsi segera menunjukkan komitmen dalam menangani karhutla dan memprioritaskan kesehatan serta keselamatan masyarakat yang terdampak.
(Opini)











Komentar