Lubuklinggau, VNM— Pemerintah Kota Lubuklinggau mendapat sorotan tajam dari berbagai elemen masyarakat akibat dinilai lamban merespons darurat kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran hutan dan lahan di wilayah Provinsi Sumatera Selatan.
Kritik utama dilayangkan karena hingga saat ini Pemkot Lubuklinggau belum juga mengeluarkan instruksi terkait Pembelajaran Jarak Jauh bagi siswa sekolah, di tengah minimnya langkah penanganan konkret di saat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut melonjak.
Ketidaksiapan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana kabut asap ini dinilai sangat membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak usia sekolah.
Hingga saat ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lubuklinggau belum mengeluarkan kebijakan pengalihan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka menjadi daring.
Padahal, kualitas udara di luar ruangan kian memburuk dan mengancam keselamatan ribuan peserta didik yang tetap harus beraktivitas ke sekolah setiap hari.
Di sisi lain, kasus ISPA di Kota Lubuklinggau dilaporkan mengalami lonjakan signifikan. Sayangnya, pemerintah daerah dinilai tidak memiliki program mitigasi yang nyata dan dirasakan langsung oleh warga.
Pemerintah Kota Lubuklinggau seharusnya segera melakukan langkah-langkah darurat minimal, seperti membagikan masker pelindung pernapasan secara gratis di jalan-jalan protokol dan lingkungan sekolah, membuka posko layanan kesehatan gratis untuk pemeriksaan warga yang mengalami sesak napas, serta rutin mengumumkan data Indeks Standar Pencemaran Udara kepada publik secara terbuka disertai instruksi pembatasan aktivitas luar ruangan.
Menanggapi situasi darurat ini, aktivis dari LSM Aliansi Pemuda Anti Korupsi Lubuklinggau, Doni Aryansyah, melayangkan kritik pedas terhadap lambannya kinerja Wali Kota dan jajaran Pemkot Lubuklinggau. Ia menilai pemerintah kota seolah tutup mata terhadap keselamatan warga.
“Pemerintah Kota Lubuklinggau terkesan tutup mata dan lamban dalam mengambil tindakan darurat. Kasus ISPA sudah melonjak tajam dan anak-anak sekolah dipaksa menghirup udara beracun setiap hari, tetapi tidak ada langkah mitigasi taktis yang terlihat. Jangan tunggu jatuh korban jiwa baru pemerintah mau bergerak cepat,” tegas Doni Aryansyah.
Melihat kondisi tersebut, berbagai pihak mendesak agar Wali Kota Lubuklinggau dan instansi terkait segera mengambil keputusan taktis, menetapkan langkah tanggap darurat, serta memberlakukan sekolah daring demi melindungi kesehatan generasi muda di Kota Lubuklinggau.
Catatan Redaksi:
Narasi di atas merupakan murni opini dan pandangan pribadi narasumber, serta menjadi tanggung jawab narasumber sepenuhnya. Narasi tersebut tidak serta-merta mencerminkan sikap maupun pandangan redaksi.
(Opini)











Komentar