(foto ilustrasi)
Lubuklinggau, VNM— Uji coba Car Free Night (CFN) di Lubuklinggau, Sabtu malam (3 Okt 2026) kemarin, memicu sorotan tajam setelah seorang warga dilaporkan meninggal dunia di dalam ambulans. Kendaraan medis tersebut gagal sampai tepat waktu ke RS Ar Bunda karena terjebak kemacetan parah akibat penutupan jalan.
Jalur CFN yang membentang dari Simpang RCA hingga Masjid Agung As-Salam telah memotong akses vital menuju RS Ar Bunda.
Karena tak ada rekayasa lalu lintas yang matang maupun jalur khusus kendaraan darurat, penumpukan kendaraan meluber ke jalan-jalan di sekitarnya.
Keluhan ini mencuat setelah pihak keluarga korban meluapkan kekecewaannya melalui postingan di media sosial.
Dikutip dari akun Info Kriminal Linggau, peristiwa ini terjadi pada Sabtu (3/10/2026) malam.
“Wak aku barusan meninggal dunia dalam perjalanan sebelum sampe ke RS Ar Bunda. Harusnya di sekitar situ jalan tetap dibikin lancar untuk ambulans, tapi kenyataannya malah macet total,” tutur salah satu kerabat korban.
Insiden ini langsung mendapat respons keras dari Doni Aryansyah, aktivis LSM APAK. Ia menilai penyelenggara terlalu fokus pada keramaian acara sampai melupakan hal paling krusial seperti akses medis darurat.
”Kalau benar, ini murni keteledoran dari Pemerintah Kota Lubuklinggau. Harusnya hal seperti ini sudah diantisipasi dari awal, apalagi di situ ada rumah sakit rujukan. Kalau bikin acara besar tapi tidak ada jalur steril buat ambulans, ya sama saja mempertaruhkan nyawa orang,” ujar Doni.
Doni mendesak Pemkot Lubuklinggau untuk mengevaluasi total pelaksanaan CFN dan tidak memaksakan program ini terus berjalan jika manajemen lalu lintasnya belum siap.
”Pemkot Lubuklinggau, jangan cuma kejar ramai dan kerennya saja, tapi keselamatan warga diabaikan. Pasien kritis itu taruhannya detik. Kejadian ini harus jadi pelajaran keras, jangan cuma direspon dengan kata ‘akan dievaluasi’ setelah ada orang yang meninggal,” tegasnya.
Hingga kini, warga berharap Pemkot Lubuklinggau segera membenahi sistem rekayasa jalan sebelum mengadakan kegiatan yang terkonsentrasi di area publik, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
(Red)











Komentar